Kejarlah Cinta #1 : Perkenalan Pertama

Pendahuluan :

Cerita Bersambung “Kejarlah Cinta” ini adalah fiksi belaka.  Apabila ada kesamaan nama & tempat itu hanya kebetulan semata dan tidak merujuk pada nama & tempat yang ada di kehidupan nyata.  Selamat membaca!

CHAPTER 1

SMA Dian Pelita, jam 2 siang.

Rian berjalan mengendap-endap menuju ruang loker ekskul bulutangkis.

Kali ini harus berhasil!

Rian sudah lama mengagumi Rin, siswi kelas III kakak kelasnya salah satu anggota ekskul bulutangkis.  Sejak Rian pertama melihat Rin berlatih bulutangkis – meski hanya lewat jendela perpustakaan, hatinya berdegup kencang.

Manisnya.

Sejak saat itu Rian semakin rajin ke perpustakaan setiap anggota ekskul bulutangkis berlatih, bukan untuk membaca buku melainkan hanya untuk melihat si pencuri hatinya berlatih.  Meski hanya bisa melihat melalui jendela perpustakaan, Rian sudah cukup senang.

Tapi kali ini Rian mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mencoba peruntungannya.  Dalam tasnya ada sebuah surat yang ditujukan pada Rin, gadis yang senyum manisnya membuat Rian tidak bisa tidur.  Tentu saja supaya surat itu tidak salah sasaran, Rian sudah mengamati terlebih dulu loker yang sering digunakan Rin.

Dan kini Rian sudah tiba di ruang loker.

Jantungnya berdegup kencang.

Yang mana loker Rin?  Biasanya yang di sana.  Tapi bagaimana bila aku salah dan surat itu nyasar ke orang lain?

Pemuda berkacamata itu bimbang cukup lama.  Perlahan dia menghampiri satu loker, dengan gemetar tangannya merogoh tasnya untuk mengambil surat cinta yang sudah ditulisnya semalam suntuk dengan mengutip kalimat indah berbunga-bunga.

Seharusnya loker ini ya.  Aku tinggal memasukkan saja surat ini dan…

Klik!

Terdengar suara shutter kamera, Rian berhenti dan memandang bingung.  Sebelum sadar apa yang terjadi, di depan pintu sudah berdiri seorang gadis cantik dengan ponsel berkamera di tangannya.

Klik!

Shutter berbunyi lagi.

Dia memotretku!

Rian panik.  Malu.

“Kok berhenti sih?” tanya gadis itu, “Udah, terusin aja.  Kirain tadi kamu mau nyuri, makanya aku foto.  Eh ternyata mau ngasih surat cinta.”

Gadis itu tersenyum nakal pada Rian.

“Tapi nggak salah juga sih aku motret kamu.  Jadi aku bisa nunjukin ke target kamu seperti apa tampang si pengirim surat.”

Rian makin serba salah.  Didengarnya si gadis menyanyi,

“O o, kamu ketauan…”

Rasanya Rian ingin mati saja.  Dengan buru-buru dia berlari ke pintu.

Masa bodo ada cewek di situ, aku tabrak aja deh.

“Eh tunggu dulu!” si gadis menahannya, “Rasanya aku kenal kamu.  Hm… sebentar aku ingat-ingat dulu.”

Ekspresi si gadis ketika berpikir sungguh cantik, tapi yang ada di pikiran Rian saat itu cuma satu : kabur dari tempat itu sesegera mungkin!

“Ah ya aku ingat sekarang!  Kamu ‘kan teman sekelasku!”

Mati aku!  Teman sekelas!

Gadis itu mengulurkan tangannya,

“Aku Lintang.  Waktu kelas I dulu kita nggak sekelas jadi maaf kalo aku nggak kenal kamu.”

Dengan ogah-ogahan Rian membalas uluran tangannya dan menjawab singkat,

“Rian”

Lintang masih tersenyum nakal,

“Nah Rian, aku liat kamu mau ngasih surat cinta.  Buat siapa?  Apa buatku?”

APAAAA?!

“Eh tapi nggak mungkin ya, ‘kan kita baru kenal.  Hm…”

Tuhan, tolong keluarkan aku dari sini!

“Oh mungkin Susi ya atau Santi.  Atau Angel?  Bener?”

Lintang memandang wajah Rian, tapi tiba-tiba dia memekik kegirangan,

“Ah!  Pasti!  Itu ‘kan lokernya kak Rin.  Kamu naksir dia ya!  Itu surat cinta buat kak Rin!”

 Ini benar-benar hari yang buruk!

Terdengar suara dari kejauhan, rupanya anak-anak bulutangkis sudah selesai berlatih.  Dan Rian semakin panik.  Dia terjebak!  Tak ada jalan keluar dari sini!

“Ah itu dia kak Rin.  Kak Riiiin!  Siniiii!  Ada kejutan nih!”

Dari kejauhan Rian melihat Rin berlari ke arahnya dan Lintang.  Secara refleks, Rian menarik tangan Lintang, rasanya saat ini mendadak dia berubah menjadi makhluk liliput yang sedang menowel-nowel raksasa,

“Lintang, please.  Jangan biarkan dia tau.  Please jangan kasih tau dia…”

Lintang kebingungan,

“Lho?  Tapi ‘kan…”

 “Please…”

 Dia mendekat.  Rin.

Pada saat itu entah bagaimana perasaan Rian, antara takjub karena bisa memandang gadis yang disukainya dari jarak dekat, panik karena dia sama sekali tidak menduga hal seperti ini bisa terjadi, dan takut pada Lintang.

Dia mau bilang apa sama Rin?

Rin semakin dekat, Lintang berbicara dengan suara pelan pada Rian,

“Aku ngerti.  Kamu diem aja, biar aku yang ngomong, oke?”

Rin sudah berdiri di depan Rian dan Lintang, gadis itu memang menarik, tubuhnya tidak begitu tinggi, lebih pendek malah dibanding Lintang, tapi tetap saja menarik, apalagi dengan rambut pendeknya.

“Lintang, ada apa kamu manggil aku sampe segitu senengnya?”

Rin memandang Rian dan tersenyum, senyum yang membuat jantung pemuda itu serasa mau lepas dari tempatnya.

“Siapa cowok ini?  Kamu kelas II ya?”

Sebelum Rian membuka mulut, Lintang sudah menyahut,

“Nah itu dia kak.  Cowok ini Rian temen sekelasku.  Dan dia…”

Lintang sengaja menahan kata-katanya sambil melirik Rian,

Ini dia!  Mati aku!  God help meee!

 “Dan dia…”  Lintang masih menahan kata-katanya.

Dia apa?  Cepat sudahi saja siksaan ini!

“Dia apa, Lin?” Tanya Rin.

Lintang tersenyum,

“Dia katanya mau ikut ekskul kita kak!”

AAPPPAAAAA?!!

(Bersambung)

Lintang baru saja membuka jalan bagi Rian agar bisa mendekati gadis yang disukainya.  Bagaimana perjuangan Rian untuk mendapatkan Rin?  Tunggu chapter berikutnya…

Kejarlah Cinta #2 : Ajakan yang Tak Terduga

Sumber gambar : paulie-nka.deviantart.com

Tulisan ini dipublish pertamakali di www.kompasiana.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: