sumber: kinja

Katak Dalam Tempurung di Era Internet

Beberapa bulan ini saya merasa ada yang janggal dengan linimasa facebook saya.

Kenapa status yang tampil berasal dari orang yang itu-itu saja?  Apa teman yang lain nggak pernah update status?

Keheranan saya semakin bertambah karena begitu melihat foto profil teman-teman saya, terlihat bahwa mereka sudah mengirim post baru seperti gambar di bawah ini:

[perhatikan bagian yang diberi tanda panah, di masing-masing foto profil yang tampil tertulis notifikasi jumlah post terbaru yang sudah mereka update, screenshot]
[perhatikan bagian yang diberi tanda panah, di masing-masing foto profil yang tampil tertulis notifikasi jumlah post terbaru yang sudah mereka update, screenshot]
Saya memang tidak sering mengakses facebook, rerata 3-4 kali dalam sehari, akan tetapi kehilangan update-an beberapa teman rasanya cukup aneh – mengingat jumlah post yang sudah mereka update.  Bahkan meski saya sudah mengubah pengaturan newsfeed menjadi ’Most Recent’ dari sebelumnya ‘Top Stories’ (yang merupakan default setting facebook), tetap saja tidak ada perubahan berarti.

Akhirnya keheranan saya terjawab.

ALGORITMA FACEBOOK

Dari berbagai sumber, saya mendapat kabar bahwa facebook sudah lama mengubah algoritmanya menyusul langkah Google dan sebagian besar situs populer lainnya.  Dengan algoritma baru tersebut, konten media – dalam hal ini facebook – yang tadinya ditampilkan berdasarkan waktu, sekarang diubah menjadi berdasarkan riwayat aktivitas dan minat pengguna.

Penerapan algoritma itu juga menjadi jawaban kenapa setelah saya membuka situs marketplace seperti BukaLapak untuk mencari informasi harga pasar sebuah action figure, misalnya, facebook kemudian menampilkan iklan produk tersebut di bilah sisinya.

Lantas seberapa besar peran algoritma facebook dalam aktivitas bermedsos?

Kutipan berikut diambil dari laman kompas.com:

Ada seseorang yang membagikan cerita mengenai tokoh politik tertentu.  Cerita tersebut sangat cocok dengan pendapat Anda mengenai berbagai hal, namun sayangnya, tidak berdasar fakta.  Lalu Anda melihat dan membacanya di linimasa media sosial, bahkan mungkin dari mesin pencari Google.

Algoritma menganggap Anda  menyukai cerita tersebut.  Lalu, efeknya algoritma akan membuat linimasa media sosial Anda menampilkan berbagai topik sesuai cerita kesukaan itu, walau cerita atau berita itu tidak sesuai dengan faktanya.

Artinya, linimasa akan otomatis menghalau cerita dengan topik berlawanan, yang sebenarnya berdasar fakta, sehingga Anda tak akan melihat bantahan atau sanggahan dari cerita yang Anda sukai mengenai sang tokoh politik itu.

Ya, facebook – juga Google – akan menganalisis profil kita berdasar informasi yang berhasil mereka himpun dari rekam jejak kita selama berinteraksi di dunia maya; situs mana saja yang kita kunjungi, di mana lokasi kita, status mana saja yang pernah kita like dan/atau komentari, apa yang menjadi minat kita, apa yang kita cari di Google, dsb.

Jadi, jika kita sering me-like atau berkomentar di status tentang politik Indonesia, maka linimasa facebook kita cenderung akan berisi atau memprioritaskan status seputar politik.  Hal yang sama juga berlaku apabila kita sering me-like atau berkomentar di status seseorang, maka facebook cenderung akan memprioritaskan status orang tersebut di linimasa kita.  Sebaliknya, jika kita kurang berinteraksi dengan seseorang, maka facebook cenderung menganggap status orang tersebut sebagai hal yang tidak penting sehingga statusnya jarang tampil di linimasa kita.

Dari sisi facebook, penerapan algoritma baru tersebut lebih berkaitan dengan relevansi iklan.  Dengan analisis profil yang sudah dibuatnya, facebook – dan lagi-lagi Google – akan menampilkan iklan yang berbeda bagi setiap pengguna.  Iklan tersebut ditampilkan berdasar analisis profil, misal: karena saya berjenis kelamin laki-laki, facebook mungkin tidak akan menampilkan iklan produk kecantikan.  Sebaliknya, berdasar usia dan data pribadi, iklan yang tampil di facebook saya mungkin berkaitan dengan asuransi.

Itu salah satu contoh.

Dengan target pasar (audience) yang terukur seperti itu, para pemasang iklan (advertiser) berharap adanya peluang konversi yang lebih tinggi.  Jika saya tidak salah, konversi adalah tindakan positif yang diambil setelah seseorang mengeklik iklan online.  Tindakan itu bisa berupa transaksi ataupun ketertarikan terhadap produk yang ditawarkan sehingga orang itu membutuhkan informasi lebih lanjut.  Mohon koreksinya dari yang lebih mengerti.

Jelas, algoritma baru tersebut menawarkan win-win solution bagi pemasang iklan.

Lalu apa imbas algoritma bagi pengguna?

THE FILTER BUBBLE EFECT

Dalam bukunya “The Filter Bubble: How the New Personalized Web is Changing What We Read and How We Think”, seorang aktivis internet Eli Pariser mengemukakan adanya fenomena yang disebut sebagai Filter Bubble Effect yaitu fenomena di mana algoritma menciptakan sebuah pembatas yang memisahkan kita dari pandangan lain yang tak sejalan dengan perspektif kita.

Dengan algoritma tersebut, facebook akan secara otomatis menyaring informasi yang akan diberikan pada penggunanya.  Informasi yang dianggap tidak penting atau tidak sejalan dengan minat dan sudut pandang si pengguna akan cenderung tidak tampil di linimasa facebooknya.  Istilah gampangnya, diblokir.

“Jadi status update dari teman-teman, grup atau fanspage yang sekiranya tidak penting pasti akan di hide oleh facebook.” (sumber)

“Facebook mengontrol apa dan di mana posting anda muncul di News Feed fans dengan algoritma rumit yang mereka sebut dengan Edgerank” (sumber)

“Google, Facebook dan berbagai situs lain akan cenderung memberikan informasi yang familiar, menyenangkan dan mengkonfirmasi kepercayaan utama kita.  Sehingga kepercayaan awal kita semakin dibuai dan dimanja dengan berbagai hal hingga semakin kuat pula pada akhirnya.  Akibatnya yang pro semakin pro dan yang kontra menjadi semakin kontra.” (sumber)

Selain itu, kabarnya algoritma facebook – sama seperti Google – mencatat topik apa yang sedang populer saat ini di lokasi saya.  Berdasar data tersebut, facebook kemudian menganggap bahwa saya perlu tahu topik populer tersebut.

Ya, sedikit-banyak saya kini mengerti kenapa status yang muncul dari beberapa orang di daftar pertemanan saya belakangan ini selalu berkaitan dengan tema tertentu, terlepas dari apakah saya pro atau kontra dengan status tersebut.  Rupanya facebook menganggap bahwa tema tersebut adalah tema aktual yang perlu terus diangkat.  Saya juga sekarang mengerti kenapa status yang berasal dari orang tertentu (yang saya yakin netter cukup mengenalnya) saat ini teramat sangat jarang muncul di linimasa saya, mungkin karena saya sudah tidak lagi berinteraksi di status pemujaan dan penghujatan yang dia tulis.

Kembali ke topik.

Kutipan berikut diambil dari laman teknologipikiran.com:

Filter buble effect juga bisa bekerja dengan cara lain, misal saat ini sedang hangat isu Ahok maka di newsfeed Anda muncul beberapa berita tentang Ahok baik pro dan kontra, kemudian Anda menjadi tergoda untuk mengklik, mereview, memberikan komentar, dan mencari di Google tentang Ahok.

Histori itu akan membuat algoritma facebook beranggapan bahwa berita Ahok itu penting dan sesuai dengan minat anda akibatnya berita-berita lain di luar itu akan sengaja dihilangkan oleh facebook dan Google!

Dan karena hanya mengklik yang itu-itu saja Google dan facebook pun menganggap bahwa kasus ini sesuai dengan minat dan sangat penting buat Anda, sehingga terus ditampilkan di newsfeed Anda, ujung-ujungnya itu pun menjadi viral.  Kemudian orang lain pun melakukan proses yang sama, timbul efek bola salju yang membuat negeri kita semakin panas.

Dalam jangka panjang, hal seperti ini tentu mengerikan.  Kita hidup di era dimana informasi begitu mudah didapatkan, ironisnya kita justru terkungkung bagai katak dalam tempurung karena informasi yang kita dapatkan malah memperkuat apa yang sudah kita percayai sebelumnya ketimbang memperkaya sudut pandang kita dalam memandang sesuatu.  Internet malah menjadi penyedia informasi yang kita suka, bukannya penyedia informasi yang kita perlukan.

We only see what we want to see; we only hear what we want to hear.

Lebih lanjut, Eli Pariser memberi contoh tentang Google:

“Meski kita sudah logout, ada 57 petunjuk yang bisa menginformasikan pada Google tentang perangkat yang kita gunakan, situs apa yang saja yang sedang kita kunjungi, hingga di mana lokasi kita saat itu.  Informasi tersebut menjadi petunjuk bagi Google untuk mengkustomisasi hasil pencarian.  Jika saya dan Anda menggunakan Google untuk  mencari informasi pada saat ini dengan kata kunci yang sama, hasil yang didapat bisa jadi akan sangat berbeda.”

Karena terus-menerus terpapar informasi yang memperkuat apa yang sudah dipercayai sebelumnya, seseorang akan merasa memiliki pemahaman yang paling benar sendiri sekaligus antikritik.  Saya sudah melihat sendiri di facebook saya, teman-teman yang ironisnya usianya justru lebih tua dari saya kini menjelma menjadi ‘orang-orang pintar’ yang gemar mengolok-olok orang lain yang tidak sepemahaman dengannya.

[ilustrasi yang menggambarkan bagaimana algoritma yang diterapkan facebook dan situs-situs lainnya pada akhirnya mengungkung kita dalam sebuah gelembung/penjara dimana informasi di sekitarnya hanya berisi informasi yang sejalan dengan perspektif kita saja (satu warna) padahal di luar gelembung, informasi sangat beragam (banyak warna), gizmodo]
[ilustrasi yang menggambarkan bagaimana algoritma yang diterapkan facebook dan situs-situs lainnya pada akhirnya mengungkung kita dalam sebuah gelembung/penjara dimana informasi di sekitarnya hanya berisi informasi yang sejalan dengan perspektif kita saja/satu warna padahal di luar gelembung, informasi sangat beragam/banyak warna, gizmodo]
Semakin mengenal internet, pikiran mereka justru menjadi lebih tertutup.

Hanya aku dan kelompokku yang benar!

Karena tertutup dari akses informasi alternatif, pada akhirnya mereka rentan menjadi pihak yang terkena hoax, bahkan menjadi penyebarnya.  Mereka telanjur memercayai hoax sebagai sebuah kebenaran karena informasi yang mereka dapat justru menganggap hoax itu sebagai sebuah kebenaran.

Jadi, seperti yang saya katakan dalam status facebook saya, apabila ada seseorang yang hobi menyebar hoax, itu mungkin dikarenakan konten yang tampil di linimasanya hoax semua, apalagi kemampuan kita untuk menyaring sebuah informasi – apakah termasuk hoax atau bukan – tetap ada batasnya.

Semakin mengkhawatirkan tentunya apabila konten hoax tersebut diviralkan.

BAGAIMANA MENGHADAPI HOAX?

Seperti kata Mark Zuckerberg sang pendiri facebook, “A squirrel dying in front of your house may be more relevant to your interests right now than people dying in Africa,” sampai saat ini cara terbaik menghadapi hoax – menurut saya – adalah dengan meredam viralitasnya.

Jangan di-like, dikomen, apalagi di-share.

Salah satu tujuan hoax adalah menjadikan dirinya penting, karena itu kita harus berupaya supaya tujuannya tidak tercapai.  Jangan terpancing berkomentar meski tujuannya melakukan counter.  Jangan terpancing untuk bertarung di lapaknya karena semakin ramai komentar, konten tersebut justru bakal makin terlihat.

Bila kita ingin meluruskan hoax, buat konten baru dan upayakan agar informasi tersebut bisa diviralkan.

Meminjam istilah menteri Susi, cara menghadapi hoax adalah, “Tenggelamkan!”

Semoga tulisan ngawur saya kali ini bermanfaat, selamat siang, dan mohon koreksinya apabila ada hal-hal yang tidak tepat karena pengetahuan saya pun masih sangat terbatas soal ini.

Tambahan sedikit, setelah menulis tulisan ini, tiba-tiba saya kepikiran bahwa bisa jadi status-status facebook saya selama ini belum tentu terbaca oleh 1.200-an teman dan 50-an pengikut saya…

Referensi & Tautan Luar:

  1. Filter Bubble Effect: Bahaya Algoritma Facebook yang Membuat Anda Semakin Fanatik dan Rasis, teknologi pikiran
  2. Algoritma Facebook EdgeRank, blog tomipoerba
  3. Konversi: Definisi, google support
  4. Algoritma Facebook Bikin Donald Trump Menangi Pemilu AS?, kompas

Video:

Beware Online Filter Bubbles, Eli Pariser

Sumber gambar: lifehacker
Tulisan ini dipublish pertamakali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini
130 orang sudah membaca tulisan ini

6 thoughts on “Katak Dalam Tempurung di Era Internet

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: