Kapok ke Anyer!

Anak-anak berenang di pantai Anyer (dokpri menggunakan SonyEricsson XPeria Ray)
Anak-anak berenang di pantai Anyer (dokpri menggunakan SonyEricsson XPeria Ray)

Liburan Natal dan Tahun Baru kemarin saya menyempatkan diri bepergian ke beberapa tempat wisata, dan satu diantaranya adalah pantai Anyer.  Saya memang tidak menginap di sana karena ide untuk ke Anyer ini muncul begitu saja dari adik saya – tanpa perencanaan sama sekali.

Menggunakan dua mobil, kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul 11 siang.  Sekitar 75% perjalanan dihabiskan di jalan tol dimulai dari tol Kebun Jeruk, kemudian Karang Tengah, dan Cikupa (kalau tidak salah) untuk selanjutnya – seingat saya – keluar di Cilegon.  Dengan menemui beberapa titik kemacetan, perjalanan Jakarta – Anyer menghabiskan waktu sekitar 4 jam.

Anyer Ternyata Punya Banyak Pantai

Ya, belakangan saya baru tahu bahwa Anyer punya banyak pantai yang masing-masingnya memiliki ciri khas tersendiri.  Pantai pertama yang saya kunjungi adalah lokasi Mercu Suar Anyer dengan tiket masuk sebesar Rp 20.000,-

Di sini pengunjung bisa merasakan sensasi menikmati pemandangan sekitar pantai dari puncak mercu suar setinggi 16 lantai.  Saya sendiri memilih untuk bersantai menikmati sepiring gado-gado dan sebutir kelapa di saung yang banyak terdapat di lokasi tersebut.  Oya, bibir pantai di sini sudah diturap, jadi jangan harap bisa berenang, lagipula pantainya berkarang.

13888909902104319431

Pantai kedua yang kami datangi adalah – katanya – Pantai Pasir Putih.  Lokasinya beberapa ratus meter setelah Cottage Mambruk Anyer.  Tiket masuknya lumayan mengejutkan Rp 50.000,-

Kelihatannya akses masuk ke pantai ini merupakan tanah pribadi karena saya melihat ada satu villa di sini dan villa lainnya yang masing-masing dibatasi oleh pagar tembok setinggi 2 meter.

Pemandangan pantai di sini harus saya katakan indah, apalagi hari sudah mulai senja.  Samar-samar di kejauhan tampak siluet gunung (Krakatau?) di tengah laut, menambah kemegahan panorama pantai Anyer.  Ah sayang saya lupa membawa kamera.

13888911671038348068

Sekali lagi saya lebih memilih untuk bersantai menggunakan tikar yang ditawarkan para pedagang di sana – sambil mengawasi anak-anak berenang.  Selain itu jika tertarik, kita bisa mencoba menaiki ATV atau Banana Boat.

Catatan Akhir

Karena tidak menginap, kami mengakhiri kesenangan sekitar pukul 18.45 untuk kembali ke Jakarta.  Dan ini yang saya sayangkan.

Penerangan jalan di Anyer ternyata tidak memadai, banyak yang gelap padahal jalur ini juga dilintasi truk-truk besar dari dan ke kawasan industri yang banyak bertebaran di wilayah ini.  Sekali waktu saya dikejutkan oleh kendaraan di depan saya yang bermaksud menyalip truk di depannya tapi ternyata mengerem mendadak karena di tengah jalan tersebut dipasang separator (yang siang tadi belum ada).

Kurang banyaknya papan penunjuk arah ke Jakarta juga menjadi masalah tersendiri buat saya dan adik saya yang memang baru pertama kali ke Anyer.  Saya beruntung karena sempat melihat ada papan kecil bertuliskan “Jakarta Tol” yang membawa saya ke sebuah jalan pintas melintasi perumahan mewah di kawasan industri.

Kondisi jalan tol pun ternyata sama “mengerikannya”, lajur tengah di jalan tol ini tidak mulus.  Kondisi tersebut memaksa saya mengambil lajur kanan dan memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, namun beberapa kali saya terpaksa ke lajur tengah karena kendaraan lain yang lebih cepat dari saya meminta jalan.  Dan kembali ke lajur tengah berarti siksaan buat kendaraan saya dan orang-orang yang ada di dalamnya.

Tiga jam pun berlalu, dan satu kalimat yang terlontar dari mulut saya adalah,

“Nggak lagi deh ke Anyer…, ” dengan tambahan kalimat, “…kalo nggak nginep dan kalo kondisinya masih kaya’ gini…”.

Ya, next-nya saya memutuskan jika lain kali ke Anyer, kita harus menginap dan kembali ke Jakarta sebelum hari gelap.  Artinya, untuk ke Anyer pun ternyata butuh perencanaan.

Seandainya akses ke Anyer tidak harus melewati kawasan industri yang gersang dan terik, seandainya Pemda setempat menyediakan infrastruktur memadai (penunjuk arah yang lengkap, informasi lokasi wisata, dan penerangan jalan yang cukup), dan seandainya pihak pengelola jalan tol memperbaiki kualitas jalan tol (yang konon katanya memang lajur tengah sengaja dibuat seperti itu supaya truk tidak ugal-ugalan), saya yakin Anyer makin jadi tujuan favorit warga Jakarta.

Tulisan ini dipublish pertamakali di www.kompasiana.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini
dibaca 69 kali

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: