metimeforthemind

Fly Me To The Moon #5: Identified Objects

Cerita Sebelumnya :

Aksi peretasan terhadap sistem pesawat Makara membuat ekspedisi penjelajahan ke Bulan yang dijalankan Sakti dan Dirga mengalami gangguan!  Peretasan itu bahkan membuat Dirga terpaksa melakukan pendaratan darurat di sisi gelap satelit Bumi tersebut dan mengakibatkan pesawat mengalami kerusakan ringan.  Sembari menunggu perbaikan pesawat Makara, Sakti ditemani android bernama ASEP melakukan pemindaian lokasi, dan mereka menangkap adanya objek asing di permukaan sisi gelap Bulan!

CHAPTER 5

Kening Dirga berkerut, wajahnya tampak sangat serius, sementara matanya tak lepas menatap layar tabletnya sambil sesekali mengutak-atik perangkat tersebut.  Beberapa saat lalu aku melaporkan apa yang kulihat berdasarkan pemindaian ASEP.

“Bagaimana?” tanyaku.

“Entahlah,” sahut Dirga sambil berulangkali mem-pinch tabletnya.  “Kau yakin ini benar?”

“Makanya aku bertanya padamu, Dirga.  Kamu lebih mengenal semua peralatan di pesawat ini.”

“Sayangnya tidak ada sinyal satelit di sini,” gumamnya kemudian menoleh pada ASEP.  “ASEP, bisa kau perkirakan berapa panjang objek ini?” ujarnya seraya menunjukkan gambar tersebut pada ASEP.

“Menurut perhitungan berdasar jarak pengamatan, panjangnya sekitar 150 hingga 170 meter, Kapten,” balas ASEP.

“Oke,” Dirga mengangguk.  “Lalu, apa lagi yang kau tahu?”

“Seperti yang Dr. Kartika katakan, objek tersebut kemungkinan besar berasal dari Bumi.  Analisisku memang belum lengkap karena hanya memindai objek tersebut dari jarak jauh, tapi itulah yang bisa kukatakan berdasarkan bank dataku.”

Aku dan Dirga saling pandang dengan satu tanda tanya besar.  Penemuan sebuah objek buatan di sisi gelap Bulan saja sudah merupakan hal yang luar biasa, apalagi objek yang ditemukan ini kemungkinan besar berasal dari Bumi.

“ASEP,” kataku.  “Seberapa lengkap bank datamu?”

“Katakan saja bahwa aku adalah Google versi live action, Dok,” jawabnya sembari tersenyum.  Ya, fokus utama LifePartner Inc sebagai pencipta ASEP adalah menciptakan robot-robot humanoid yang mirip dengan manusia dalam hal fisik dan – tentu saja – emosi, meski artifisial.  Ada milyaran sensor yang ditanamkan di bawah ‘kulit’ android buatan LifePartner.  Saat ‘kulit’ sebuah android menerima stimulus, sensor-sensor tersebut akan bekerja mengirimkan informasi ke chip yang kemudian memberikan respons atas stimulus tersebut – tergantung bentuk stimulus, siapa pemberi stimulus, dan program yang ditanamkan pada android tersebut.  Mudahnya, android buatan LifePartner akan memberikan respons yang berbeda apabila suatu saat disentuh orang yang tidak dikenalnya.

Dan melihat ASEP tersenyum saat ini, itu berarti ia ditanamkan program untuk bergurau sesekali.

“Begitukah?” aku mencibir membalas gurauan ASEP.  “Kalau begitu apa bank datamu bisa menemukan kesesuaian antara objek yang kita temukan ini dengan objek yang ada di Bumi?”

ASEP kembali tersenyum.

“Aku sudah melakukannya, Dok.  Kau tahu, ini protokol standarku apabila—“

“Ya, ya, kami tahu,” potong Dirga tak sabar.  “Lalu, apa hasilnya?”

“Baik, Kapten.  Setidaknya aku menemukan tiga objek yang memiliki kesesuaian dengan objek yang kita temukan ini.  Sementara ini ketiganya adalah kapal laut buatan Amerika Serikat.”

ASEP kemudian memperlihatkan hasil analisisnya di layar utama pesawat Makara.  Layar kemudian terbagi dua, sebelah kiri memperlihatkan objek yang kami temukan, kabur memang, sementara sebelah kanan memperlihatkan foto tiga buah kapal yang diduga memiliki kesesuaian dengan objek tersebut.  Semuanya buatan Amerika Serikat, lebih tepatnya kapal dari masa Perang Dunia I.

“Yang benar saja,” desis Dirga begitu melihat gambar-gambar tersebut.  Ekspresi wajahnya jelas terlihat antusias.  “Jika benar, ini akan menjadi penemuan terbesar dalam misi manusia menjelajah Bulan – bahkan mungkin luar angkasa.”

“Dirga,” ujarku.  “Kau tidak berpikir untuk memeriksa objek tersebut dari dekat ‘kan?”

Dirga hanya tertawa.

“Kau mau menunggu empat jam di sini selama pesawat diperbaiki atau mau ikut dan menjadi bagian dari penemuan terbesar dalam sejarah penjelajahan luar angkasa?” tanyanya.

Tak ada pilihan.

Tiga puluh menit kemudian kami bertiga sudah berada di dalam Perintis, wahana penjelajah permukaan Bulan.  Di pesawat tadi Dirga memutuskan menggunakan kendaraan meski jarak dari Makara ke objek tersebut tidak terlalu jauh.

“Untuk berjaga-jaga saja seandainya terjadi sesuatu,” terang Dirga.  “Lagipula, aku sudah beberapa kali menganalisis laporanmu dan punya dugaan kuat bahwa kita akan menemukan lebih banyak objek menarik di area itu.”

“Maksudmu?”

“Sakti, kapal itu bukan satu-satunya benda buatan manusia yang entah bagaimana bisa ada di situ.”

Aku terbelalak sementara Dirga mengangkat bahunya.

“Aku sama bingungnya sepertimu, Sakti.  Saat ini banyak pertanyaan berputar di kepalaku.  Aku juga sadar keputusanku ini mengandung risiko.  Kita tidak tahu apa yang akan kita temukan di area itu selain kapal dan lain-lainnya.”

“Maksudmu—“

“Oh ayolah, kau tahu aku tidak percaya alien itu ada – setidaknya alien yang digambarkan di film-film Hollywood.  Tapi sama sepertimu, aku percaya ada bentuk kehidupan lain di luar Bumi.  Kehidupan seperti apa, itulah tugasmu, Dok.”

Perintis yang membawa kami bergerak dalam keheningan.  Benar-benar hening karena tidak ada oksigen di Bulan, bahkan kalaupun ada, kadarnya sangat tipis sehingga tidak mungkin menjadi penunjang kehidupan.

Kehidupan versi manusia, tentu saja.

Beberapa ilmuwan percaya bahwa organisme mikro yang disebut Beruang Air memiliki ketahanan yang luar biasa terhadap kondisi ekstrem seperti luar angkasa.  Mampu bertahan hidup pada suhu panas 151 dan suhu dingin minus 273 derajat Celcius, tahan hidup tanpa minum selama satu dekade, bahkan tahan terhadap radiasi.

Selain itu masih ada bakteri Anaerob yang hidup dalam tubuh manusia.  Bakteri tersebut dapat hidup dengan baik dengan atau tanpa oksigen.

Hanya karena manusia adalah spesies yang membutuhkan air dan udara, tidak berarti semua bentuk kehidupan memerlukan kedua unsur itu, bukan?

“Dirga,” panggilku sementara Perintis masih bergerak perlahan menuju tujuannya.  “Menurutmu apa yang terjadi dengan kapal itu?”

“Kapal-kapal,” Dirga meralat ucapanku, “jika aku benar.”

“Whatever,” kataku.

“Ya, oke.  Tadi ASEP menganalisis kemungkinan benda di Bumi yang memiliki kesesuaian dengan objek yang akan kita selidiki ini.  Menurut hasil sementara, ada tiga benda yang sesuai.  Semuanya kapal buatan Amerika, buatan tahun 1900-an, tepatnya sekitar tahun 1910 dan 1911.”

Aku hanya menggumam mengiyakan ucapan Dirga.

“Yang jadi pertanyaan…,” Dirga mencondongkan tubuhnya, “jika benar objek yang kita temukan ini sebuah kapal – apalagi buatan manusia, bagaimana bisa berada di sini?”

“Maaf menyela, Dok,” potong ASEP.  “Mungkin aku bisa memberi informasi kemungkinan nama ketiga kapal tersebut.”

Menempuh jarak sekitar 800 meter dalam waktu 10 menit jelas bukan prestasi bagi wahana Perintis.  Namun dengan pertimbangan pekatnya kegelapan yang menyelimuti perjalanan kami ditambah fakta bahwa sampai saat ini belum ada peta sisi gelap Bulan, Dirga tak mau mengambil risiko menempuh medan yang sama sekali belum dikenalnya.  Ia memerintahkan kendali otomatis Perintis untuk menjalankan program MSD (Most Safe Driving).  Dengan program ini, Perintis bisa saja berhenti lama di satu titik untuk melakukan analisis sebelum berjalan dan memilih rute yang paling aman.

Dari pantulan lampu sorot Perintis, di depan sana mulai terlihat siluet objek asing itu.  Jantungku pun berdetak makin kencang seiring jarak yang makin sempit antara Perintis dengan objek tersebut.

Bip.

Alarm di dasbor Perintis berbunyi pendek disusul kedipan lampu di kemudi otomatisnya.

“Oke, rupanya kita berhenti di sini,” tukas Dirga lalu mengenakan helm dan sarung tangan antariksanya.  Jarak Perintis dari objek tersebut sekitar 20 meter.  “Kau sudah siap, Sakti?” tanya Dirga.

Aku mengangguk sementara ASEP sudah bersiap di kompartemen khusus untuk turun dari Perintis.  Prosedur keselamatan penjelajahan antariksa kali ini adalah menugaskan robot terlebih dahulu sebelum keadaan sekitar dipastikan aman bagi astronot.  Antara kompartemen tersebut dengan kabin utama Perintis disekat tiga lapis pintu untuk berjaga-jaga.

“Kenapa mereka paranoid sekali,” desis Dirga.  “Prosedur seperti ini bertele-tele.”

“Apa boleh buat,” aku mengangkat bahu.  “Safety First?”

“Atau asuransi,” sela Dirga disusul tawa kecil kami.

Kompartemen diturunkan, beberapa menit kemudian aku melihat ASEP berputar-putar di sekitar lokasi, memindai berbagai arah, melakukan berbagai prosedur sebelum akhirnya ia memberi tanda bahwa semua baik-baik saja.

Dengan satu debuman ringan, sepatu antariksaku kini menjejak permukaan satelit Bumi yang suhunya saat ini diperkirakan 180 derajat Celcius di bawah nol, dua kali lebih dingin ketimbang suhu paling dingin yang tercatat di Stasiun Vostok, Antartika pada tanggal 31 Juli 1983.

Dan meski pakaian antariksa sudah dirancang untuk menahan suhu dingin yang ekstrem, tak urung aku masih merasakan dingin yang menggigit membuat tubuhku sedikit gemetar.

“Masih dingin, ya?” terdengar suara Dirga melalui alat komunikasi jarak pendek.

“Aku tak menyangka dinginnya seperti ini,” balasku.

“ASEP, apa kau mendengar kami?” tanya Dirga lagi.

“Sangat jelas, Kapten.”

“Baiklah, kita tidak ada masalah komunikasi di sini.  All clear.”

Kami bertiga berjalan mendekati salah satu objek asing tersebut.  Entah kenapa, semakin dekat jarak kami, aku semakin merasa bahwa benda tersebut benar berasal dari Bumi.

Di tengah pekatnya kegelapan sisi gelap Bulan, cahaya dari lampu-lampu sorot yang kami bawa seolah menjadi satu-satunya penanda kehidupan di permukaan Bulan.  Kami menggerakkan lampu ke segala arah mencari apapun yang bisa dijadikan petunjuk.

Dan tiba-tiba…

“Ya ampun.”

Ucapan Dirga barusan membuat aku menoleh ke arahnya.

“Ada apa?” tanyaku.

Namun Dirga tak segera menjawab, hanya cahaya dari lampu sorotnya yang mengarah ke satu titik seolah ada satu petunjuk di situ.  Mataku mengikuti arah lampu sorotnya dan…

“Tidak mungkin,” desisku.

“ASEP, sepertinya kau benar,” sambung Dirga.

Meski tak terlalu jelas, di salah satu bagian objek tersebut aku melihat huruf!

Ya, huruf!  Huruf U, C, P, dan S

Itu berarti benar benda di depan kami ini berasal dari Bumi.

Huruf-huruf tersebut tidak seluruhnya terlihat, namun itu cukup untuk memperkuat informasi yang sudah kami dapat sebelumnya.

Benda di depan kami adalah sebuah kapal, kapal laut buatan Amerika sekitar tahun 1910.

USS Cyclops.

(Bersambung)

USS Cyclops?  Tak diragukan lagi, benda asing di permukaan Bulan itu adalah sebuah kapal, tepatnya kapal laut yang berasal dari Bumi.  Bagaimana bisa benda seperti itu ada di Bulan?  Ikuti chapter berikutnya!

Fly Me To The Moon #6 : USS Cyclops     |     Fly Me To The Moon #1 : Departure

 

sumber gambar : metimeforthemind
Tulisan ini dipublish pertamakali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.
66 orang sudah membaca tulisan ini

2 thoughts on “Fly Me To The Moon #5: Identified Objects

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: