cerpen perjalanan manusia ke bulan (vox)

Fly Me To The Moon #1 : Departure

Namaku Kartika Bimasakti.

Hari ini Kamis 17 Agustus 2045, atau kami biasa menyebutnya ‘Hari 229’ dihitung sejak hari pertama matahari terbit di tahun 2045.

“Akhirnya hari ini tiba juga,” ujar Satria Dirgantara – biasa dipanggil Dirga – rekanku dalam misi kali ini.

Aku hanya mengangguk seraya mendengarkan lagu ‘Indonesia Raya’ yang di-relay oleh Pusat Kendali Misi di Trowulan.

Hari ini – tepat 100 tahun kemerdekaan Indonesia – aku dan rekanku akan membuat satu perjalanan bersejarah.

“One small step for man, one giant leap for mankind, ya?” Dirga kembali bersuara.  Kalimat yang diambil dari ucapan Neil Armstrong tatkala ia menjadi manusia pertama yang menjejakkan kakinya di bulan.  “Siapa sangka kita akan menjadi orang Indonesia pertama yang melakukannya.”

Aku tersenyum,

“Memangnya apa yang akan kau ucapkan?” tanyaku.

“Entahlah,” bahu Dirga bergerak sedikit.  Pakaian Luar Angkasa seberat 15 kilogram yang kami kenakan sedikit membatasi gerak.  “Mungkin aku akan menyampaikan pesan pada  tetangga-tetangga kecil kita,” lanjutnya diiringi tawa getir.

Tawa getirnya membuatku teringat peristiwa duapuluh tahun silam saat beberapa provinsi menyatakan lepas dari Indonesia dan membentuk negara sendiri dengan dukungan dunia internasional.  Kami berdua masih berusia 18 tahun saat itu.  Kini, beberapa negara pecahan tersebut membentuk sebuah uni baru.

Aku menghela napas.

“Sekarang kita di sini, Sakti,” ujar Dirga.  “Kita akan buktikan bahwa Indonesia masih, tetap, dan makin kuat.”

Aku mengangguk.  Kami harus fokus pada misi.  Sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk terbenam dalam romantisme masa lalu tentang Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan kekayaan alam yang luar biasa melimpah.

“Mission Control calling,” radio komunikasi di pesawat kami berbunyi.

“Roger,” balas Dirga.

“20 menit lagi misi diberangkatkan.  Mulai menyalakan roket pendorong.”

“Afirmatif.  Konfirmasi menyalakan roket pendorong,” kami berdua menekan beberapa tombol dan mengaktifkan bahan bakar roket pendorong yang akan membawa kami menembus atmosfer.

“Konfirmasi diterima.  Keep report your status,” petugas di Pusat Misi menutup pembicaraan.

Di kabin mulai terdengar denging dari bahan bakar yang telah dinyalakan.  Dengingnya mirip suara pesawat komersil yang akan segera tinggal landas, hanya saja yang ini lebih keras.

Enambelas menit berlalu, selama itu pula kami terus memonitor seluruh status yang terpampang di layar di hadapan kami.  Suara dengingan kini sudah berkurang pertanda pesawat sudah siap diberangkatkan.

“Mission Control calling,” Pusat Misi kembali menghubungi kami.  “Report your status.”

Dengan tenang Dirga melaporkan status bahan bakar, roket pendorong, tekanan udara, hingga peralatan darurat penunjang kehidupan.

“End of report, all is OK,” pungkasnya.

“Afirmatif,” balas Pusat Misi.  “Laporan sudah dicatat.  Dalam beberapa menit lagi kalian akan berangkat.  Dan… tunggu sebentar… ada seseorang yang istimewa ingin berbicara dengan kalian.”

Kami berpandangan.

Siapa?

“Saudara Satria Dirgantara dan Kartika Bimasakti, perkenalkan saya Yanuar Mintaraga,” terdengar satu suara yang tak asing.

Presiden!

“Pak Presiden,” kami serempak berseru.  “Benar-benar kejutan, kami merasa terhormat.”

“Tidak,” sanggah presiden, “justru saya yang merasa terhormat bisa berbicara dengan kalian di menit-menit terakhir.  Saya bangga, bangga sekali.”

“Kami juga bangga, Pak.”

“Kita akan sampaikan kebanggaan ini pada dunia.  Kita akan buktikan bahwa mulai saat ini kita akan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju.  Di usia seratus tahun ini, bangsa Indonesia bukan lagi penonton eksplorasi antariksa melainkan sudah jadi pemain.  Kita masih, tetap, dan makin kuat.”

“Kita masih, tetap, dan makin kuat, Pak,” balas Dirga.

“Dirgahayu Indonesia!” seru presiden.  “Nah, selanjutnya saya kembalikan pada pemandu misi kita.”

Aku ingat betul, Yanuar Mintaraga yang saat ini berusia tepat 70 tahun sudah mengusulkan proyek ini 15 tahun lalu saat menjabat Menristek.  Dengan dukungan penuh dari Kepala Lapan Fernando Koto, proyek ambisius ini akhirnya bisa terwujud – meski terdengar rumor bahwa Amerika Serikat tak mau membagi pengalamannya tatkala eks negara adidaya tersebut berhasil mendaratkan astronotnya di Bulan.  Begitupun dengan China yang pernah mengirim pesawat berawaknya, negara adidaya ini sama sekali tak memberikan dukungan apapun untuk proyek ini.

Hanya Rusia yang bersedia membantu, meski mereka tampak sedikit enggan.

Dan hanya beberapa hari menjelang misi, seorang kosmonot mereka meninggalkan selarik pesan pendek.

“Приготовься”

Sebuah pesan yang sewaktu kutanyakan artinya pada sahabatku cukup membuatku mengerutkan kening.

Bersiap?  Bersiap untuk apa?

Ada apa?

Bagiku pesan itu lebih dari sekadar ucapan selamat jalan.  Ada satu makna tersembunyi di balik pesan tersebut, pesan penting yang risikonya sangat besar bila diberitahukan pada kami.

“Oke, kita akan berangkat.  Hitung mundur dimulai,” suara Dirga membuatku kembali fokus pada peralatan di hadapanku.  Ada dua tuas yang akan membuka katup pensuplai bahan bakar roket.  Kedua tuas ini harus digerakkan bersamaan agar katup terbuka secara bersamaan.

Kami harus sangat fokus di sini karena keterlambatan sekejap saja akan membuat katup tidak terbuka bersamaan yang berpotensi menyebabkan pergeseran arah roket karena tenaga pendorong yang tidak seimbang.  Pergeseran ini sangat berbahaya bahkan meski hanya 1 derajat, pesawat akan melenceng dari rute semula.  Jika ini terjadi, bisa-bisa kami tak akan pernah sampai di tempat tujuan.

Lucu, pikirku.

Bahkan di tahun 2045 ini take off masih harus dilakukan dengan cara manual.

“Hitung mundur dimulai,” aku meletakkan tanganku pada salah satu tuas sementara Dirga sudah siap dengan tuas yang menjadi tanggung jawabnya.

“Afirmatif.  Sepuluh,” Pusat Misi memberi komando.

“Sepuluh,” ulang Dirga.

Hitung mundur dimulai.

“Tiga… dua… satu.  Launch.”

“Launch,” Dirga mulai menggerakkan tuas.

“Launch,” aku pun menggerakkan tuas.

Perlahan dengingan berubah menjadi deru yang makin lama makin keras dan memekakkan telinga diikuti getaran yang mengguncang kabin.  Di tahap ini, dorongan dari roket haruslah kuat agar pesawat bisa lepas dari gravitasi Bumi.  Fase ini berlangsung selama beberapa menit sementara tubuh kami berada dalam posisi horizontal dengan permukaan Bumi alias seperti diikat di matras yang diguncang dengan keras.

Kebanyakan calon pilot gagal saat menjalani simulasi kondisi seperti ini.

Kecepatan pesawat makin bertambah, guncangan berkurang, begitupun deru mesin.  Kondisi sudah terasa lebih nyaman, komunikasi pun sudah bisa dilakukan.

“Mission Control calling, report status,” terdengar lagi suara dari Pusat Misi melalui radio.

“Satria Dirgantara report, all OK.”

“Kartika Bimasakti report, all OK.”

“Afirmatif, laporan sudah dicatat.  Keep report your status.”

Beberapa menit kemudian, mesin pendorong pertama sudah dilepas.  Pesawat sudah melayang tenang di orbit.

“Mission Control calling.”

“Roger.”

“Selamat, kita sudah melewati tahap pertama.  Untuk selanjutnya nikmati pemandangan di bawah sana selama 36 jam ke depan.”

Kami semua tertawa.  Lega.

“Mission Control,” panggil Dirga, “dengan siapa saya bicara?”

“Dengan Harukami,”

“Wow!” seru Dirga, “Nihonjin ka?”

“Negatif,” Harukami tertawa.  “Indonesia asli, not a Japanesse.”

“Oh,” Dirga kembali tertawa.  Ia memang seorang yang riang dan selalu optimis.  “Nah, Harukami, terasa sepi di sini.  Bisa putarkan kami lagu?”

“Tunggu sebentar,” ujar Harukami, “sepertinya di sini punya lagu yang cocok untuk kalian.”

Fly me to the moon

And let me play among the stars.

Let me see what spring is like

On Jupiter and Mars

“Hei, ini lagu favoritku!” seruku tanpa sadar.

Kami pun bernyanyi bersama sementara pesawat luar angkasa yang kami tumpangi sedang dalam perjalanannya menuju orbit Bulan.

(Bersambung)

Lagu ‘Fly Me To The Moon’ mengiringi keberangkatan dua astronot Indonesia, Kartika Bimasakti dan Satria Dirgantara menuju Bulan.  Mereka akan menjadi orang Indonesia pertama yang menginjakkan kakinya di Bulan.  Apakah misi mereka akan berhasil?

Fly Me To The Moon #2 : Storm

Video :

sumber gambar : vox
Tulisan ini dipublish pertamakali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.
231 orang sudah membaca tulisan ini

8 thoughts on “Fly Me To The Moon #1 : Departure

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: