belanja online (aturduit)

Belanja Online? Siapa Takut?

“Pagi gan, ane sudah di lokasi ya…”

“Oke, tunggu sebentar, ane juga baru nyampe.”

Saya yakin sebagian kita sudah hafal dengan panggilan ‘agan/sista’ yang menjadi sapaan khas satu forum komunitas populer.  Dan percakapan di atas biasa saya lakukan melalui pesan singkat (SMS) ketika mengadakan janji temu untuk suatu transaksi pembelian barang.

Ya, saya cukup sering membeli barang-barang yang dijual member  forum tersebut dengan kisaran harga antara Rp 50.000 – Rp 2.000.000 mulai dari buku, cemilan, DVD (aplikasi, template, game, anime, dll), mug, kartu perdana, kamera, ponsel & aksesorisnya, wallpaper, sampai perangkat komputer (wireless mouse & keyboard, VGA, dll) serta aneka barang yang bisa jadi saya sudah lupa hehehe…

Dan sepanjang pengalaman saya belanja online, Alhamdulillah semuanya berjalan baik.

Lewat tulisan ini saya bermaksud berbagi tips aman dan nyaman seputar belanja online.  Siap?

Pertama, fokus pada apa yang kita cari

Ini lumayan penting supaya kita nggak ‘nyasar’ ke mana-mana.  Kebanyakan penipu online memasang perangkap di mana-mana dengan umpan yang menarik dan sayang dilewatkan.  Jika niat awal kita mencari barang merk A misalnya, sementara fokuskan dulu prioritas kita di situ.  Jika kita sudah merasa cukup, barulah kita mencari alternatif lain dari barang yang kita cari tersebut.

Cek harga

Sebelumnya kita harus tahu rentang harga dari barang tersebut.  Informasi harga bisa diketahui dengan membuka iklan yang diposting member lain.  Semakin banyak iklan yang dibuka, kita semakin tahu berapa rata-rata harga barang tersebut.

Tak ada salahnya curiga sedikit bahwa barang yang dijual dengan harga di bawah harga pasar biasanya sbb :

  1. Barang second hand (bekas pakai),
  2. Barang KW (non-ori alias palsu),
  3. Barang bermasalah (ada kerusakan, error, cacat produksi, dsb),
  4. Barang fiktif (seller cuma niat nipu).

Karena itu perhatikan iklannya dengan seksama.  Untuk poin 1 s.d 3, seller yang jujur biasanya akan menyebutkan status barang (second, KW, atau rusak).  Sementara untuk poin 4 biasanya memberikan penawaran yang ‘too good to be true’ alias tidak masuk akal, misalnya dia menjual barang (katanya baru/BM) dengan harga 1,5 juta padahal harga pasarannya sekitar 4 juta.  Logikanya, jika kita punya barang yang bisa dijual mendekati harga pasar, kenapa harus dijual sangat murah?

Adakah iklan yang serupa?

Perhatikan, jika banyak iklan dengan redaksional serupa di hari yang sama namun diposting oleh member yang berbeda-beda, kita boleh curiga bahwa iklan tersebut berpotensi penipuan – apalagi jika nomor kontak yang diberikan sama.  Logikanya, iklan yang dibuat oleh orang yang berbeda pasti akan ada perbedaan isi, setidaknya untuk nomor kontaknya.

Perhatikan foto yang menyertai iklan

Saya pribadi lebih memprioritaskan iklan yang disertai foto agar bisa mendapat gambaran seperti apa kondisi barang yang ditawarkan.  Namun perhatikan juga, apakah foto tersebut asli atau comotan dari Google?  Jika foto tersebut comotan dari Google, saya lebih suka untuk langsung menutup iklan tersebut, saya lebih suka foto yang asli sebagai sumber informasi bahwa barang yang ditawarkan memang ada.

Bertransaksi untuk barang yang tidak ada fotonya itu ibarat membeli kucing dalam karung, IMHO, CMIIW.

Di mana lokasi seller?

Jika memungkinkan, utamakan seller yang lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi kita.  Lokasi yang dekat memungkinkan kita untuk melakukan transaksi secara COD (Cash On Delivery alias ketemuan langsung, ada barang ada uang).

Terakhir, metode pembayaran

Saya hanya melakukan transfer langsung apabila :

  1. Nilai transaksi tidak terlalu besar (di bawah Rp 500.000),
  2. Seller memang memiliki toko di dunia nyata,
  3. Sellernya kredibel,
  4. Lokasi yang tidak memungkinkan untuk COD.

Untuk transaksi dengan nilai di atas Rp 500.000 saya mengutamakan COD, itu sebab kenapa saya memilih seller yang lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi kita.  Jam dan tempat ketemuan juga biasanya disepakati agar pembeli dan penjual sama-sama merasa aman (meski belum tentu nyaman seperti pengalaman saya selama ini karena transaksi dilakukan di pinggir jalan.  Seller nggak mau ditawari minum, mungkin takut ya hehehe).

Namun kadang ada pembeli dan penjual yang merasa kurang nyaman untuk COD (mungkin salah satu dari mereka perempuan yang risih jika harus bertemu orang asing), maka jasa Rekening Bersama (Rekber) bisa jadi pilihan.  Dengan rekber, pembeli mentransfer uang ke penyedia jasa (bukan langsung ke penjual) sebesar nilai transaksi ditambah biaya jasa rekber.  Pihak rekber kemudian meminta penjual untuk mengirimkan barang.  Apabila penjual sudah menyatakan menerima barang, maka rekber akan mentransfer uang ke rekening penjual.

Ribet?  Mungkin.  Tapi demi keamanan, kenapa tidak?

Dan inilah beberapa barang yang saya dapat melalui perburuan online :

14186991341539419041

Jadi, jangan takut belanja online namun tetap waspada.  Semoga tulisan saya kali ini bermanfaat.  Selamat pagi!

sumber gambar: aturduit
Tulisan ini dipublish pertamakali di kompasiana.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini
39 orang sudah membaca tulisan ini

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: