Ada Cinta #1 : Siapa Gadis Itu?

ada cinta 1

Pendahuluan :

Cerita Bersambung “Ada Cinta” ini adalah fiksi belaka.  Apabila ada kesamaan nama & tempat itu hanya kebetulan semata dan tidak merujuk pada nama dan tempat yang ada di kehidupan nyata.  Selamat membaca!

CHAPTER 1

Angga sedang bermalas-malasan di kamarnya ketika ia mendengar deru mobil memasuki halaman rumah.

Siapa yang datang?

Seingat Angga, tak banyak teman-teman orangtuanya yang memiliki mobil, karena itu ia menyibak sedikit tirai jendela kamarnya di lantai atas, mencari tahu siapa tamu yang berkunjung.

Dilihatnya sepasang suami-istri yang kira-kira seumuran dengan orangtuanya turun dari mobil diikuti seorang gadis berambut panjang sepunggung.

Cantik, pikir Angga.

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan ketika ia memandang ke lantai atas rumah tersebut, ia merasa ada seseorang yang memperhatikannya.

Angga tersadar.

Buru-buru ia menutup tirai dan bersembunyi di balik jendela.

Siapa cewek itu? tanya Angga dalam hati.

Atau jangan-jangan ‘dia’ bener-bener datang.  Tapi masa’ sih?

Angga teringat perkataan kedua orangtuanya beberapa hari lalu.

Nggak mungkin!  Ini nggak mungkin!

Beberapa hari lalu Angga tak menganggap serius perkataan orangtuanya, sampai hari ini ketika ia melihat kedatangan gadis tersebut.

Di mana album itu?  Di mana?  Apa masih ada?

Siswa kelas XII itu segera membuka lemari pakaiannya mencari benda yang disebutnya ‘album’.  Ia tahu apa yang dilakukannya saat ini mungkin terdengar di bawah sana.  Tapi ia tak peduli.  Tujuannya saat ini cuma satu : menemukan album tersebut!

Ada! Ini dia!

Dengan rasa puas, Angga langsung membuka halaman demi halaman album yang sudah terlihat usang tersebut.  Ditelusurinya satu demi satu foto-foto yang ada di situ…

Mana?  Yang mana dia?

“Angga… Angga…” terdengar suara ibunya memanggil sambil mengetuk pintu.

Angga terdiam.

“Angga, ibu tau kamu nggak tidur.  Kamu tadi ribut banget sampai kedengaran di bawah,” lanjut wanita berusia sekitar 40 tahun itu sambil terus mengetuk pintu.

Angga mengalah, ia kemudian membuka pintu kamarnya.

“Angg… Astaga, Angga…” sang ibu terkejut melihat kamar anaknya yang saat ini berantakan, “Kamu ngapain aja sih kok kamarmu bisa berantakan gini?”

“Nanti Angga beresin,” jawab Angga sekenanya, “Ada apa, Bu?”

Yang ditanya malahan melihat Angga dari ujung rambut sampai ujung kaki kemudian mengendus-endus seperti mencium sesuatu.

Sejurus kemudian wanita itu berkata tegas pada Angga,

“Cuci mukamu, ganti bajumu pakai baju yang pantas, habis itu turun ke bawah.  Kita kedatangan tamu.”

“Bu,” panggil Angga ketika wanita itu beranjak, “Apa itu beneran ‘dia’ yang datang?”

“Sudah, pokoknya turun aja,” jawab sang ibu.

* * *

15 menit kemudian…

Dengan rasa penasaran, Angga turun dari kamarnya menuju ruang tamu.

“Nah, tu dia,” terdengar suara sang ayah, “Sini, Ngga.”

Meski agak segan, Angga menurut.

Moga-moga Ayah bisa sedikit menghormatiku kali ini, harapnya.

Harapan yang tak terkabul karena ketika pemuda berusia 18 tahun duduk di dekatnya, sang ayah mengucel-ucel rambut Angga seperti anak kecil.  Dan Angga tidak bisa berbuat apa-apa meski dia merasa malu yang teramat sangat, apalagi tindakan itu dilakukan di depan seorang gadis seusianya.

Semua tertawa.

“Nah, Nay,” ayah Angga memanggil gadis tersebut, “Ini Angga.  Om nggak tau kamu masih inget apa nggak, soalnya biar badannya sudah segede gini dia masih kaya’ anak-anak.”

Angga terpana.

Nay?  Jadi, dia beneran datang?

Gadis yang dipanggil ‘Nay’ itu tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Angga,

“Angga ‘kan?  Aku Nay, moga-moga kamu masih inget ya,” katanya, “Tapi kalo kamu nggak inget ya nggak apa-apa, kita kenalan lagi.”

“Nay,” gadis itu menyebutkan namanya sambil tetap tersenyum.

“Angga,” balas Angga.

Beberapa saat lamanya mereka bersalaman, dan Angga berusaha keras mengingat masa kecilnya.

“Gimana?  Kamu sudah inget aku?” tanya Nay.

“Samar sih,” Angga berbohong, “Maklum kita ‘kan masih kecil waktu itu.”

Nay tertawa renyah.  Ia melepaskan tangannya dari Angga, merogoh sesuatu dari tas kecil yang dibawanya, kemudian memberikannya pada Angga.

“Ini,” katanya, “Foto kita waktu kecil.  Moga-moga ini bisa bikin kamu inget.”

Angga memperhatikan foto yang ditunjukkan Nay padanya.  Dalam foto itu terekam gambar lima orang anak kecil berusia sekitar 5-6 tahun yang sedang bergaya bak Power Rangers.

Tanpa sadar Angga tersenyum.

Ini foto jaman-jaman Power Rangers lagi booming.

“Jadi?” tegur Nay, “Kamu sudah inget?”

Angga mengangguk.

“Selamat datang kembali, tomboy,” ujarnya sambil tertawa.  Angga sekarang ingat, di foto itu Nay adalah seorang gadis kecil dengan rambut pendek seperti anak laki-laki.  Begitu juga kelakuannya.

Nay tertawa.

“Nah,” lanjut Angga, “Apa kamu ke sini mau mengulang masa-masa itu?  Kalo ya, aku siap!  Kita cari teman-teman kita dulu…”

Tiba-tiba wajah Nay berubah murung.

Angga melihat perubahan itu,

“Kenapa, Nay?” tanyanya, “Apa aku salah ngomong?  Maaf…”

Nay menggeleng.

“Kamu nggak salah kok,” katanya.

Gadis itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya,

“Tapi… aku ke sini karena aku butuh bantuanmu…”

Angga keheranan.

Bantuan?  Bantuan apa?

(Bersambung)

Angga kedatangan tamu, teman masa kecilnya yang bernama Nay.  Tapi kenapa gadis tersebut datang menemui Angga?  Bantuan apa yang dimintanya?  Ikuti chapter berikutnya saat Nay menjelaskan kondisinya…

“Ada Cinta” direncanakan terbit dua kali dalam seminggu, Selasa dan Jumat…

Ada Cinta #2 : Sebuah Kebetulan?

Sumber gambar : galleryhip.com

Tulisan ini dipublish pertamakali di www.kompasiana.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

1 thought on “Ada Cinta #1 : Siapa Gadis Itu?

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: